Alami Kekeringan, Sejumlah Daerah di Indonesia Kekurangan Air Bersih
3 min read
TOP-NEWS.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan kejadian bencana pada periode Senin hingga Selasa, 6–7 Juli 2026. Memasuki musim kemarau, sejumlah daerah di Indonesia mengalami kekeringan yang menyebabkan kekurangan air bersih.
“Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa pada awal Juli 2026. Dari ujung timur Pulau Jawa, Desa Sumberpinang di Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebanyak 125 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan sejak Rabu (1/7),” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D, dalam keterangannya, Selasa (7/7).
Abdul Muhari mengatakan, pada Senin (6/7), BPBD Kabupaten Jember bersama Palang Merah Indonesia (PMI) mendistribusikan 4.000 liter air bersih kepada warga terdampak di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang.
Selanjutnya di bagian selatan Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah warga di Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop mengalami kekurangan sumber air bersih akibat menurunnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Gunungkidul mendistribusikan 40.000 liter air bersih kepada warga pada Senin (6/7).
Di Jawa Tengah, sebanyak 4.244 warga di Kecamatan Bawang dan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat berkurangnya debit sumber air.
Pada Senin (6/7), BPBD Kabupaten Banjarnegara mendistribusikan delapan truk tangki dengan total 80.000 liter air bersih kepada warga di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, dan Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja.
Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Cilacap, Grobogan, dan Banyumas, Jawa Tengah. Sebanyak delapan desa di enam kecamatan di Kabupaten Cilacap mengalami defisit air bersih sejak Juni 2026.
Kecamatan terdampak meliputi Nusawungu, Jeruklegi, Adipala, Patimuan, Kampung Laut, dan Gandrungmangu, dengan total 6.275 jiwa terdampak.
BPBD Kabupaten Cilacap mendistribusikan 30.000 liter air bersih dengan rincian sebagai berikut: 5.000 liter di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut; 5.000 liter di Desa Cinangsi, Kecamatan Gandrungmangu; 10.000 liter di Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi; 5.000 liter di Desa Cimrutu, Kecamatan Patimuan; dan 5.000 liter di Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan.
Sementara itu, di Kabupaten Grobogan, enam kecamatan terdampak kekeringan akibat menurunnya debit sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Wirosari, Toroh, Kedungjati, Purwodadi, Geyer, dan Kradenan.
Pendistribusian bantuan air bersih telah selesai dilaksanakan dan diterima dengan baik oleh masyarakat terdampak. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar 602 kepala keluarga.
Di Kabupaten Banyumas, kekeringan terjadi di Kecamatan Purwokerto Timur dan Karanglewas. Sebanyak 4.614 jiwa terdampak kekurangan air bersih. BPBD Kabupaten Banyumas mendistribusikan air bersih menggunakan mobil truk tangki berkapasitas 5.000 liter sebanyak tiga kali perjalanan dengan total 15.000 liter kepada warga di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, dan Desa Karanglewas, Kecamatan Jatilawang.
Selanjutnya, akibat berkurangnya curah hujan secara signifikan di wilayah Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang dipicu oleh anomali iklim sehingga memicu musim kemarau berkepanjangan, masyarakat setempat mengalami kekurangan cadangan air bersih. Sebanyak 120 kepala keluarga atau 555 jiwa terdampak.
Pada Senin (6/7), Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Bogor mendistribusikan 10.000 liter air bersih ke Kampung Ciburial dan Landeuh sehingga kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah tersebut sementara dapat terpenuhi.
BNPB mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering selama musim kemarau.
Masyarakat diharapkan mengisi cadangan air saat pasokan masih tersedia, menggunakan air secara bijak sesuai kebutuhan, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, serta memanfaatkan kembali air bekas yang masih layak, misalnya air cucian sayur untuk menyiram tanaman.
BNPB juga meminta masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana geologi, seperti gempa bumi, yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Masyarakat agar menyiapkan tas siaga bencana sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan serta senantiasa memantau informasi terbaru dari sumber resmi dan tepercaya, seperti BNPB, BPBD, dan BMKG.
Sumber : BNPB
