fbpx
Kamis, 9 Juli 2026

TOP-NEWS

| KAMI ADA UNTUK ANDA

Wujudkan “Tahfidz Water”, Santri Pondok Tahfidz Papua Madani Jayapura Kelola Mandiri Air Minum Berkualitas

5 min read

TOP-NEWS.id, JAYAPURA – Program Pengabdian Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) ubah santri jadi pengelola air minum mandiri
Pondok Tahfidz Papua Madani Boarding School (PMBS) di Koya Barat, Kota Jayapura, Provinsi Papua, kini memiliki sistem pengolahan air minum sendiri.

Tim pengabdian USTJ yang diwakili Dr. Suyatno, MT selaku Wakil Rektor Bidan Akademik secara resmi menyerahkan satu unit pengolah air bersih dan air minum kepada Yayasan Al-Bakarah, yang diterima langsung Ketua Yayasan H. Maddu Malu, SE., M.BA di Jayapura, Papua, Rabu (8/7/2026).

Pondok yang berdiri sejak 2019 ini menampung 45 santri aktif, terdiri dari 27 santri putra dan 18 santri putri dengan usia 13-23 tahun, dengan program unggulan tahfidz intensif yang menargetkan hafalan 30 juz dalam tiga tahun.

Selama ini, kebutuhan air minum santri bergantung penuh pada galon isi ulang dari luar, dengan biaya yang membebani operasional pondok.

“Sumber air baku kami dari sumur, dan kualitasnya berfluktuasi terutama saat musim hujan. Untuk air minum, kami harus membeli galon isi ulang dengan pengeluaran mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan,” kata Ketua Pengurus Pondok Tahfidz Papua Madani, H. Maddu Mallu, SE., MBA, yang juga pengasub pondok.

Penyerahan alat pengolah air bersih dan air minum secara simbolis dari USTJ oleh Dr. Suyatno, MT kepada Pimpinann Yayasan Al Bakarah Abepura H. Maddu Malu. SE, M.BA. (dok. USTJ)

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian Drs. Bambang Suhartawan, M.MT, dari Program Studi Teknik Lingkungan USTJ menjelaskan bahwa hasil kajian awal terhadap kualitas air sumur, ada beberapa parameter kualitas air yang tidak memenuhi syarat untuk air minum (Permenkes Nomor 2 Tahun 2023).

Diantaranya, yakni TDS (total dissolved solids), warna, dan total coliform.
“Selain itu, air sumur ini juga memiliki tingkat kesadahan yang cukup tinggi. Kondisi ini yang mendasari kami merancang sistem filtrasi bertahap agar air sumur bisa diolah menjadi air minum yang aman dikonsumsi santri,” ujar Bambang.

Teknologi Filtrasi Dua Tahap

Sistem yang dibangun menggunakan filtrasi dua tahap. Tahap pertama, terdiri dari lima tabung filtrasi: dua tabung berisi polipropilena (PP) berukuran tiga dan satu mikron untuk menyaring sedimen dan lumpur penyebab kekeruhan, dua tabung berisi resin kation untuk melunakkan air dan mencegah kerak, serta satu tabung Carbon Block dan Granular Activated Carbon (GAC) untuk menghilangkan bau, warna, dan senyawa organik.

Tim Pengabdi dan Pimpinan Yayasan bersama Santriwati PMBS. (dok. USTJ)

Tahap kedua, menggunakan dua filter Fiberglass Reinforced Plastic (FRP) berisi media silika dan karbon aktif, dilanjutkan empat filter PP satu mikron sebagai penyaringan akhir, selanjutnya air melewati proses desinfeksi ultraviolet (UV) untuk membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme patogen.

“Sistem ini kami rancang dengan kapasitas 1000 liter per hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum 45 santri dengan asumsi konsumsi 1,5-2 liter per hari per santri, ditambah kebutuhan memasak,” jelas Dr. Drs. Suyatno, MT, dari Program Studi Teknik Mesin USTJ yang menjadi supervisor teknis instalasi.

Ia menambahkan bahwa pemilihan teknologi ini didasarkan pada kemudahan pengoperasian, biaya perawatan yang terjangkau, serta pertimbangan agar santri senior dapat mengelola sistem secara mandiri tanpa bergantung pada tenaga ahli dari luar.

Pelatihan Berjenjang Santri Senior

Selain membangun infrastruktur, Tim USTJ juga menjalankan program pelatihan komprehensif selama 24 jam yang dibagi dalam enam modul, mulai dari dasar air bersih dan kesehatan, prinsip teknologi pengolahan air, praktik perakitan sistem filtrasi, operasional dan pemeliharaan, monitoring kualitas air, hingga manajemen organisasi bisnis dan keuangan.

Pelatihan ini menyasar 20 santri senior yang telah menempuh program tahfidz minimal 1,5 tahun dengan capaian hafalan 15-25 juz, terdiri dari 12 santri putra dan 8 santri putri berusia 17-23 tahun.

Tim Pengabdi bersama Ketua Yayasan dan perwakilan santri PMBS. (dok. USTJ)

“Fokus kami bukan hanya membangun alat, tapi membangun kapasitas santri agar mereka bisa mengelola sistem ini secara mandiri dan mewariskan pengetahuannya ke santri junior,” ucap Dr. Komari, M.Ed, anggota tim pengabdian yang menkoordinasi aspek pemberdayaan dan capacity building santri.

Untuk memastikan keberlanjutan, dibentuk Unit Pengelola Air Minum dengan struktur organisasi yang jelas, yaitu satu koordinator dan delapan orang di seksi teknis serta pemeliharaan, kemudian dua orang di seksi administrasi dan keuangan, enam orang di seksi quality control, serta tiga orang di seksi edukasi dan sosialisasi. Setiap tahun, santri senior akan melatih santri junior untuk regenerasi pengelola.

Model Bisnis Sosial “Tahfidz Water”

Aspek keberlanjutan finansial menjadi perhatian utama program ini. Tim pengabdian mengembangkan model wirausaha sosial dengan prinsip cost recovery, di mana santri dikenakan iuran internal Rp 2.000 per hari atau Rp 60.000 per bulan untuk pemeliharaan sistem dan penggantian media filter.

Selain untuk konsumsi internal, pondok juga mengembangkan produk air minum kemasan galon dengan merek “Tahfidz Water”, yang dijual kepada alumni, wali santri, dan masyarakat sekitar pondok dengan harga Rp 5.000 per galon.

“Kami menyusun business plan lengkap dengan proyeksi tiga tahun ke depan, termasuk analisis titik impas dan strategi pemasaran sederhana. Harapannya, unit ini bisa menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus wadah belajar kewirausahaan bagi santri,” tambah Bambang Suhartawan.

Dampak dan Keberlanjutan Program

Program ini diproyeksikan memberikan dampak multidimensi. Dari sisi kesehatan, program ini diharapkan menurunkan risiko penyakit berbasis air, seperti diare dan tipus, sekaligus mendukung hidrasi optimal santri yang penting bagi konsentrasi dalam menghafal Al-Qur’an.

Dari sisi ekonomi, pondok diperkirakan dapat menghemat biaya operasional minimal Rp 10 juta per tahun yang sebelumnya dialokasikan untuk pembelian galon isi ulang.

Program pengabdian ini mendapat dukungan dana Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta dana pendamping dari pihak pondok berupa lahan dan pembangunan rumah peralatan.

Tim Pengabdi dan warga PMBS menikmati air minum “AQUAPAMA” produk DAMIU PMBS. (dok. USTJ)

Selain itu, dukungan Rektor USTJ Dr. M. Rusdianto Abu, S.AP., M.Si dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dr. Mugiati, SE., MM.
Pendampingan akan berlangsung selama delapan bulan dengan minimal delapan kali kunjungan lapangan, ditambah pendampingan jarak jauh melalui grup WhatsApp untuk konsultasi teknis.

Pada bulan keempat dan kedelapan, tim akan melibatkan Dinas Kesehatan Kota Jayapura untuk melakukan uji kualitas air hasil pengolahan.

“Model pemberdayaan ini kami harapkan bisa direplikasi di pondok-pondok pesantren lain di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, yang menurut data Kementerian Agama sebagian besar masih menghadapi kendala penyediaan air bersih dan sanitasi,” tutur Bambang.

Program ini turut melibatkan mahasiswa Teknik Lingkungan USTJ, Muhamad Fauzan Adhiansyah dan Simon Kalolik, yang bertugas mendampingi proses instalasi, dokumentasi, dan pendampingan harian santri dalam pengoperasian sistem filtrasi.

Editor: Frifod
Sumber: Drs. Bambang Suhartawan, M.MT, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat USTJ.

Copyright © TOP-NEWS.ID 2024 | Newsphere by AF themes.