Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 8 Oktober 2026
7 min read
TOP-NEWS.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan pemutakhiran data mulai Rabu (7/10) hingga Kamis (8/10) pukul 07.00 WIB. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi kejadian yang banyak dilaporkan dalam periode tersebut.
Salah satu kejadian yang dilaporkan terjadi di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung. Kebakaran melanda kebun karet milik PT Huma Indah Mekar pada Selasa (6/10) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kebakaran terjadi di lebih dari satu titik dengan penyebab yang masih belum diketahui. Lokasi terdampak berada di Desa Penumangan, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 78,2 hektare.
“BPBD bersama tim gabungan melakukan pengecekan lapangan untuk penilaian dan dokumentasi pelaporan,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S. P. Panjaitan, Ph.D dalam keterangannya, Kamis (8/10).
Upaya penanganan juga dilakukan melalui koordinasi dengan pengurus wakaf masjid dan tokoh masyarakat setempat untuk mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
BPBD juga berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor dan Unit Tindak Pidana Tertentu Kepolisian Resor untuk penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab kebakaran.
Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/493/VI.08/HK/2026 tentang Perpanjangan Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi dan Bencana Erupsi Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung Tahun 2026/2027 selama 360 hari, terhitung mulai 6 September 2026 sampai dengan 1 September 2027. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah padam pukul 23.00 WIB.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain di Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Pesawaran. Kebakaran lahan terjadi pada Rabu (7/10) sekitar pukul 01.00 WIB di lahan kebun yang ditumbuhi rumpun bambu, Desa Kububatu, Kecamatan Way Khilau.
Kebakaran diduga dipicu bekas pembakaran di kebun pada sore hari sebelumnya. Api yang sebelumnya diduga telah padam kembali menyala akibat tiupan angin kencang, kemudian membesar dan menjalar ke rumpun bambu yang kering.
Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 2 hektare. BPBD Kabupaten Pesawaran bersama tim terkait melakukan pemadaman dengan berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor Kedondong serta melibatkan warga sekitar. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah padam.
Laporan kebakaran hutan dan lahan juga datang dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di Pulau Bangka. Di Kabupaten Bangka Barat, kebakaran terjadi pada Rabu (7/10) pukul 13.46 WIB di Jalan Mentok–Pangkalpinang, Desa Air Belo, Kecamatan Muntok.
Penyebab kebakaran masih belum diketahui. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terdampak sekitar 1 hektare.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Bangka Barat mendatangi lokasi untuk memantau kondisi api dan melakukan penanganan bersama Pemadam Kebakaran serta warga setempat.
Upaya pemadaman terkendala angin kencang, kondisi lahan gambut, serta mesin pompa yang tidak dapat dioperasikan.
Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Bupati Bangka Barat Nomor 100.3.3.2/176A/BPBD/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Potensi Bencana Alam Hidrometeorologi di Kabupaten Bangka Barat, terhitung mulai 1 Agustus sampai dengan 31 Oktober 2026. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah padam pada pukul 15.10 WIB.
Masih di Pulau Bangka, kejadian serupa dilaporkan di Kota Pangkalpinang. Kebakaran lahan terjadi pada Rabu (7/10) pukul 20.50 WIB di depan TPU Sinar Bulan, Kelurahan Temberan, Kecamatan Bukit Intan.
Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 2 hektare. TRC BPBD Kota Pangkalpinang bersama tim gabungan melakukan pemadaman dengan penyemprotan air. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api berhasil dipadamkan pada pukul 21.10 WIB.
Setelah wilayah Sumatra, laporan kebakaran juga datang dari Pulau Jawa, salah satunya di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Kebakaran lahan terjadi pada Selasa (6/10) pukul 08.40 WIB di Desa Giritirto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 1 hektare.
Setelah menerima laporan, BPBD Kabupaten Wonogiri bersama Perum Perhutani menerjunkan personel ke lokasi untuk melakukan penanganan.
Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, terhitung mulai 1 Juni sampai dengan 31 Desember 2026.
Selain itu, status mengacu pada Keputusan Bupati Wonogiri Nomor 364/154/HK/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan, terhitung mulai 2 Juni sampai dengan 30 November 2026. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah padam.
Masih di Jawa Tengah, kejadian kebakaran lahan juga dilaporkan di Kabupaten Grobogan pada Selasa (6/10) pukul 21.30 WIB. Lokasi terdampak berada di Desa Katekan, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 1 hektare.
TRC BPBD Kabupaten Grobogan bersama petugas gabungan diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Setelah api berhasil dipadamkan, petugas melakukan pendinginan dan penyisiran untuk memastikan tidak terdapat sisa bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Pemantauan terus dilakukan hingga kondisi dinyatakan aman dan terkendali. Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, terhitung mulai 1 Juni sampai dengan 31 Desember 2026. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api berhasil dipadamkan dan tidak meluas ke permukiman warga.

Sementara itu, di Jawa Timur, kebakaran lahan dilaporkan terjadi di Kabupaten Trenggalek. Pada Rabu (7/10) sekitar pukul 10.00 WIB, BPBD menerima laporan masyarakat mengenai kebakaran lahan milik warga dan kawasan hutan milik Perum Perhutani Petak 78 A.
Penyebab kebakaran masih belum diketahui. Lokasi terdampak berada di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 3,5 hektare.
BPBD Kabupaten Trenggalek berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan pemadaman bersama tim gabungan. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api berhasil dipadamkan pada pukul 14.30 WIB.
Setelah Pulau Jawa, laporan berikutnya datang dari wilayah Sulawesi, tepatnya Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Kebakaran lahan terjadi pada Selasa (6/10) sekitar pukul 20.30 WITA di Dusun Ratte, Desa Palipi, Kecamatan Sendana.
Penyebab kebakaran masih belum diketahui. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 8 hektare.
BPBD Kabupaten Majene bersama petugas gabungan melakukan penanganan di lokasi kejadian. Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Bupati Majene Nomor 100.3.3.2/536/VIII/TAHUN 2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kering Dampak El Nino di Kabupaten Majene selama 60 hari, terhitung mulai 10 Agustus sampai dengan 8 Oktober 2026. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api di lokasi kejadian telah padam seluruhnya.
Masih di Sulawesi Barat, kejadian kebakaran lahan juga dilaporkan di Kabupaten Polewali Mandar. Kebakaran terjadi pada Selasa (6/10) sekitar pukul 13.00 WITA di Desa Beroangin, Kecamatan Mapilli, dengan luas lahan terdampak sekitar 10 hektare.
Kebakaran diduga terjadi akibat pembakaran lahan yang ditinggalkan dalam keadaan masih menyala sehingga api menyebar ke area sekitar.
Pemadam Kebakaran Polewali Mandar mengerahkan dua unit armada untuk melakukan pemadaman. BPBD2 Kabupaten Polewali Mandar mendukung penanganan dengan mengerahkan satu unit mobil tangki air dan 10 personel.
Batalyon Teritorial Pembangunan Kris Muda Mandar juga mengerahkan satu unit armada pemadam dengan tangki air beserta personel. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Bupati Polewali Mandar Nomor 100.3.3.2/738/2026 tentang Perpanjangan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Polewali Mandar, terhitung mulai 20 Agustus sampai dengan 17 November 2026. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api di lokasi kejadian telah padam.
Laporan karhutla berikutnya datang dari Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya Kabupaten Tojo Una-Una. Kebakaran lahan terjadi pada Selasa (6/10) pukul 20.00 WITA di Desa Labuan, Kecamatan Ratolindo, dengan penyebab yang masih dalam penyelidikan.
Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terdampak sekitar 10 hektare. BPBD Kabupaten Tojo Una-Una berkoordinasi dengan instansi terkait, pihak kecamatan, dan pemerintah desa setempat untuk melakukan penanganan serta pendataan di lokasi terdampak.
Status kedaruratan mengacu pada Keputusan Bupati Tojo Una-Una Nomor 100.3.3.2/20/BPBD/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi serta Kebakaran Hutan dan Lahan, terhitung mulai 11 Agustus sampai dengan 9 Oktober 2026.
Kebutuhan mendesak berupa peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat dipindahkan. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah berhasil dipadamkan, dengan area yang terbakar sekitar 2 hektare dari total lahan terdampak sekitar 10 hektare.
Memasuki wilayah utara Sulawesi, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, pada Selasa (6/10) pukul 11.00 WITA. Kebakaran terjadi di wilayah perbatasan Kelurahan Malendeng dan Desa Sawangan, Kecamatan Tombulu, serta berdampak hingga Kecamatan Tondano Selatan.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 3,5 hektare. BPBD Kabupaten Minahasa berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan penanganan. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah padam.
Masih di Sulawesi Utara, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan di Kabupaten Kepulauan Talaud. Kebakaran terjadi pada Rabu (7/10) pukul 13.00 WITA di kawasan Kebun Mata Wulan, Kelurahan Melonguane Timur, Kecamatan Melonguane.
Berdasarkan informasi awal di lapangan, sumber api diduga berasal dari pembukaan lahan dengan cara dibakar. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 4 hektare.
BPBD Kabupaten Kepulauan Talaud bersama masyarakat setempat melakukan penilaian dan pemadaman. Situasi terkini pada Rabu (7/10), api telah padam.
Laporan terakhir berasal dari kawasan timur Indonesia, tepatnya Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan. Pada Selasa (6/10) sekitar pukul 17.00 WIT, BPBD Kabupaten Boven Digoel menerima laporan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kampung Naga dan sekitarnya, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel.
Penyebab kebakaran masih belum diketahui. Tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian material berupa lahan terbakar sekitar 20 hektare.
BPBD Kabupaten Boven Digoel berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan penanganan bersama tim gabungan. Upaya penanganan masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan sarana, prasarana, armada pemadam, personel, dukungan operasional, serta logistik dan kebutuhan dasar personel.
Kondisi di lapangan juga dipengaruhi jarak lokasi yang jauh dari pusat kota, asap tebal, akses terbatas, dan minimnya sumber air.
Situasi terkini pada Rabu (7/10), hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat titik api dan asap di lokasi. Penanganan dan pemantauan terus dilakukan untuk mengendalikan kebakaran serta mencegah penyebaran lebih luas.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pada kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko penyebaran api.
BNPB mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar, terutama di wilayah lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
“Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok atau benda yang masih menyala sembarangan serta memastikan bara bekas pembakaran sampah atau lahan benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” imbau Berton.
Ia mengingatkan masyarakat juga perlu menyiapkan sumber air, alat pemadam sederhana, dan sekat bakar di sekitar kebun atau permukiman. Kenali jalur evakuasi dan titik kumpul yang aman.
“Saat terjadi asap tebal, gunakan masker, batasi aktivitas di luar rumah, dan utamakan keselamatan kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan,” ujar Berton.
Ia juga mengingatkan agar segera melaporkan kemunculan titik api atau asap kepada perangkat desa, BPBD, Pemadam Kebakaran, atau aparat setempat. Jangan mencoba memadamkan api berukuran besar seorang diri dan tetap pantau informasi cuaca serta peringatan dini dari sumber resmi.
Sumber : BNPB
