Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air, 22 Juni 2026
5 min read
TOP-NEWS.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pendataan kejadian bencana dan upaya penanganannya berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga Senin, (22/6) pukul 07.00 WIB.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D menyampaikan, kejadian pertama di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Sullteng pada Sabtu, (20/6) sekitar pukul 23.00 WITA.
Hujan tersebut mengakibatkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga. Luapan air menyebabkan banjir yang merendam sejumlah rumah dan lahan pertanian di beberapa wilayah terdampak.
“Bencana banjir tercatat terjadi di empat kecamatan dengan enam desa terdampak, yakni Desa Olaya dan Desa Pombalowo di Kecamatan Parigi, Desa Lebagu di Kecamatan Balinggi, Desa Masari dan Desa Dolago Padang di Kecamatan Parigi Selatan, serta Desa Parigimpu di Kecamatan Parigi Barat,” paparnya.
Dampak banjir dirasakan oleh sedikitnya 146 kepala keluarga (KK), dengan 32 KK di antaranya sempat mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Berdasarkan data sementara, Desa Masari mencatat 70 KK terdampak dan 10 KK mengungsi. Di Desa Pombalowo, sebanyak 25 KK terdampak dan 22 KK mengungsi. Desa Dolago Padang mencatat 50 KK terdampak, sedangkan Desa Parigimpu mencatat 1 KK atau 6 jiwa terdampak.
Pendataan di desa terdampak lainnya masih terus dilakukan. Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Dari sisi kerugian materiil, banjir berdampak pada sekitar 166 unit rumah warga, dengan dua unit rumah mengalami rusak ringan. Selain itu, sekitar 70 hektare lahan persawahan dan 2 hektare kebun turut terdampak.
Infrastruktur yang mengalami kerusakan meliputi tiga unit jembatan rusak berat serta satu unit saluran air yang jebol akibat derasnya arus banjir.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait dan melakukan asesmen di lokasi terdampak guna memastikan kondisi masyarakat serta kebutuhan penanganan darurat.
Unsur yang terlibat dalam penanganan antara lain BPBD Kabupaten Parigi Moutong, PMI Polsek Parigi, Babinsa, kepala desa, kepala dusun, Bhabinkamtibmas, aparat desa, dan masyarakat setempat.
Adapun kebutuhan mendesak yang diperlukan bagi warga terdampak meliputi selimut, matras atau tikar, serta bantuan logistik berupa bahan pangan dan beras. Bantuan tersebut dibutuhkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat selama masa pemulihan pascabencana.
Berdasarkan kondisi mutakhir, genangan banjir di sejumlah lokasi dilaporkan berangsur surut. Warga yang terdampak mulai kembali ke rumah masing-masing dan melakukan pembersihan rumah serta pekarangan yang sebelumnya terendam banjir.
Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan guna mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak.
Banjir Rob
Selanjutnya, banjir rob kembali melanda wilayah pesisir Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, (20/6) sekitar pukul 16.25 WIB akibat kenaikan muka air laut yang disertai jebolnya tanggul laut di Kecamatan Tayu.
Kondisi tersebut menyebabkan air laut melimpas ke daratan dan menggenangi kawasan permukiman warga serta area tambak di sekitarnya.
Dampak banjir rob terfokus di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu. Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 127 kepala keluarga (KK) terdampak akibat genangan yang memasuki lingkungan tempat tinggal mereka.
Meskipun tidak ada warga yang mengungsi, pemerintah desa telah mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menyiapkan balai desa dan polindes sebagai tempat evakuasi sementara, khususnya bagi kelompok rentan seperti lanjut usia apabila kondisi memburuk.
Selain berdampak pada aktivitas masyarakat, banjir rob juga menimbulkan kerusakan pada sejumlah aset dan infrastruktur. Tercatat sekitar 73 unit rumah terdampak, sementara sekitar 85 hektare lahan tambak terendam air laut.
Genangan juga menutupi jalan desa sepanjang kurang lebih 2,3 kilometer sehingga mengganggu mobilitas warga. Di sisi lain, kerusakan tanggul menjadi faktor utama yang memperparah masuknya air laut ke kawasan permukiman dan tambak masyarakat.
Merespons kondisi tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) Kabupaten Pati bersama instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan asesmen dan pemantauan perkembangan situasi.
BPBD Kabupaten Pati juga telah menyalurkan bantuan logistik pangan bagi warga terdampak serta mengalokasikan bantuan dana sebesar Rp60 juta untuk penanganan darurat tanggul yang jebol.
Dukungan tambahan berupa geotekstil dari BPBD Provinsi Jawa Tengah turut diberikan guna membantu penanganan area tambak yang terdampak.
Sejumlah langkah darurat juga telah dilakukan untuk mengurangi risiko meluasnya genangan. Perbaikan pada sebagian ruas tanggul yang ambrol telah berhasil diselesaikan.
Selain itu, petugas bersama masyarakat membangun tanggul sementara menggunakan karung berisi tanah pada titik-titik yang dianggap rawan.
Upaya pengendalian rob juga dilakukan melalui pemasangan pipa pada aliran sungai menuju muara laut serta pemasangan waring sebagai penanda batas tambak yang tanggulnya sudah tidak tampak akibat terendam air.
Meski kondisi mulai terkendali, sejumlah kebutuhan mendesak masih diperlukan untuk mendukung penanganan dan pemulihan di lokasi terdampak.
Kebutuhan tersebut antara lain bantuan logistik bagi warga, air minum kemasan, popok sekali pakai untuk balita dan lanjut usia, pembangunan kembali tanggul laut yang masih jebol, serta peninggian tanggul kritis yang berbatasan langsung dengan kawasan permukiman.
Berdasarkan laporan terkini, genangan banjir rob di Desa Tunggulsari telah berangsur surut. Namun demikian, pemerintah daerah bersama unsur terkait tetap melakukan pemantauan secara intensif mengingat potensi pasang air laut yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Upaya penanganan dan perbaikan infrastruktur terus dilakukan guna meminimalkan dampak serta melindungi masyarakat dari kejadian serupa di masa mendatang.
Karhutla
Di wilayah lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, pada Minggu, (21/6) sekitar pukul 17.30 WIB. Kebakaran dilaporkan menghanguskan lahan ilalang yang berada di kawasan Perbukitan Batu Kodok, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Peristiwa tersebut berlangsung di area perbukitan yang didominasi vegetasi kering berupa ilalang sehingga api dengan cepat menjalar ke sejumlah titik di lokasi kejadian.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 4 hektare. Tidak terdapat korban jiwa maupun laporan warga terdampak akibat kejadian ini.
Menindaklanjuti laporan kebakaran, BPBD Kabupaten Situbondo segera berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan asesmen di lokasi guna memastikan luas area terdampak serta mendukung upaya penanganan.
Langkah cepat yang dilakukan petugas berhasil mencegah meluasnya kebakaran ke area lain yang berpotensi meningkatkan risiko kerusakan lingkungan.
Kejadian ini berlangsung di tengah status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Jawa Timur berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026. Status siaga darurat tersebut berlaku mulai 26 Mei hingga 6 Oktober 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau.
Kondisi terkini, api telah berhasil dipadamkan dan situasi di lokasi kejadian dinyatakan terkendali. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru serta memastikan tidak terjadi kebakaran susulan di kawasan perbukitan yang terdampak.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat upaya mitigasi sesuai dengan karakteristik risiko di masing-masing wilayah.
Masyarakat diharapkan aktif mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait, menjaga kondisi lingkungan sekitar, serta segera melaporkan potensi ancaman yang dapat berkembang menjadi bencana.
Kesiapsiagaan yang dilakukan sejak dini merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko, melindungi keselamatan jiwa, dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Sumber : BNPB
