fbpx
Selasa, 13 Oktober 2026

TOP-NEWS

| KAMI ADA UNTUK ANDA

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 13 Oktober 2026

4 min read

TOP-NEWS.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan bencana pada periode Senin hingga Selasa, 12-13 Oktober 2026. Sejumlah kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan serta banjir masih menjadi atensi pemerintah pusat maupun daerah pada periode ini.

Laporan peristiwa yang pertama, karhutla terjadi di Desa Taraitak, Kecamatan Langowan Utara serta Desa Karor, Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

“Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD Kabupaten Minahasa, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 25 hektare, dengan rincian 10 hektare di Desa Taraitak dan 15 hektare lahan perkebunan cengkeh dan kelapa di Desa Karor,” ungkap Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D dalam ketwrsngannya, Selasa (13/10).

Ia mengatakan, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Minahasa bersama tim gabungan melakukan penanganan menggunakan mobil pemadam. Hingga Senin (12/10), api telah berhasil dipadamkan.

Peristiwa serupa dilaporkan terjadi di Jalan Malaja 2, Kelurahan Surutanga, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (12/10).

BPBD Kota Palopo melaporkan satu hektare lahan terbakar. BPBD berkoordinasi dengan unsur terkait untuk melakukan pemadaman dan pendinginan. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama pukul 14.40 WITA. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Masih di Sulawesi Selatan, kebakaran lahan juga terjadi di Dusun Urung, Desa Sipatuo, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang pada Senin (12/10) pukul 13.45 WITA. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 1,5 hektare.

TRC BPBD Kabupaten Pinrang bersama petugas pemadam kebakaran dan masyarakat setempat melakukan pemadaman menggunakan satu unit mobil tangki air. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama.

Kebakaran lahan yang berikutnya terjadi di Kelurahan Saran Matallo, Kecamatan Sa’dan, Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Senin (12/10) sekitar pukul 21.00 WITA.

Kejadian tersebut mengakibatkan sekitar dua hektare lahan terbakar. BPBD Kabupaten Toraja Utara bersama satgas gabungan melakukan pemadaman darat. Api berhasil dipadamkan pada Selasa (13/10) pukul 02.00 WITA. Penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan.

Sementara itu di Provinsi Jawa Timur, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang pada Senin (12/10). Laporan kejadian diterima Pos Pemadam Kebakaran Ngoro pada pukul 10.37 WIB setelah seorang warga melaporkan terjadi kebakaran lahan di Desa Ngampungan.

Pos Damkar Ngoro kemudian mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran beserta personel untuk melakukan pemadaman dan pembasahan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai dua hektare. Api berhasil dipadamkan pada pukul 12.00 WIB.

Di wilayah lain, kekeringan melanda Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, akibat tidak turunnya hujan dalam waktu yang lama sehingga sumber mata air mengering.

Kejadian ini berdampak pada sekitar 400 KK atau 1.450 jiwa yang tersebar di empat kecamatan, yakni Ciater, Cipeundeuy, Cisalak, dan Subang.

BPBD Kabupaten Subang melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pihak setempat, serta menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pada Senin (12/10), distribusi air bersih sebanyak 5.000 liter dilakukan di Kampung Babakan Waru, RT 08/RW 08, Desa Palasari, Kecamatan Ciater. Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih terus diperlukan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

Selain fenomena kekeringan, anomali cuaca terjadi di Pulau Sumatra. Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit sungai meluap dan tanggul Paya Bunder jebol sehingga air masuk ke pemukiman warga di Kabupaten Langkat pada Minggu (11/10) pukul 19.15 WIB.

Banjir merendam wilayah di empat kecamatan, yakni Kecamatan Besitang (Desa Sekoci, Desa Aras Napal dan Kelurahan Kampung Lama), Kecamatan Padang Tualang (Desa Tebing Tanjung Selamat dan Tanjung Putus), Kecamatan Salapian (Desa Ujung Teran) dan Kecamatan Sirapit (Desa Tanjung Keriahan).

Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 835 kepala keluarga (KK) atau 3.439 jiwa terdampak, dengan sekitar 310 KK mengungsi akibat kejadian ini. Tercatat banjir juga berdampak pada sekitar 835 unit rumah, dua jembatan, serta jaringan listrik.

BPBD Kabupaten Langkat bersama BPBD Provinsi Sumatera Utara bersama Basarnas, TNI, dan Polri melakukan koordinasi, pemantauan, evakuasi warga ke tempat yang lebih aman, serta penyaluran bantuan logistik.

Selain itu, satu orang dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian oleh tim Basarnas di lapangan. Hingga Senin (12/10), tinggi muka air masih bertahan sekitar 50–150 sentimeter.

Banjir juga melanda Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara, pada Senin (12/10) sekitar pukul 00.30 WIB. Kenaikan tinggi muka air Sungai Bingai yang dilaporkan mencapai sekitar 310 sentimeter sehingga mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah, meliputi Kelurahan Rambung Timur dan Mecirim di Kecamatan Binjai Selatan serta Kelurahan Setia, Tangsi, dan Berngam di Kecamatan Binjai Kota.

Berdasarkan pendataan sementara, banjir berdampak pada sekitar 1.222 KK atau 4.554 jiwa. Selain itu, sekitar 1.222 unit rumah dan dua fasilitas umum turut terdampak.

BPBD Kota Binjai melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman. Hingga Selasa (13/10), penanganan banjir masih berlangsung.

Menyikapi berbagai peristiwa bencana yang terjadi di sejumlah wilayah, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di tengah kondisi lahan yang kering.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada petugas setempat agar dapat ditangani sedini mungkin.

Menghadapi dampak kekeringan, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak, menyimpan cadangan air bersih selama pasokan masih tersedia, serta memanfaatkan sumber air secara efisien. Pemerintah daerah dan masyarakat dapat berkoordinasi untuk memastikan distribusi air bersih menjangkau warga yang membutuhkan.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir juga diharapkan tetap waspada terhadap hujan dengan intensitas tinggi dan kenaikan muka air sungai.

Warga diminta mengikuti arahan petugas, mengutamakan keselamatan saat evakuasi, serta memantau informasi dan peringatan dini dari sumber resmi, termasuk BNPB, BPBD, dan BMKG.

Sumber : BNPB

Copyright © TOP-NEWS.ID 2024 | Newsphere by AF themes.