fbpx
Sabtu, 29 Agustus 2026

TOP-NEWS

| KAMI ADA UNTUK ANDA

Temukan Masalah Gigi hingga Obesitas pada Siswa, Kemenkes Jadikan CKG Anak Sekolah  Pintu Masuk Wujudkan Generasi Unggul

3 min read

(Foto : Kemenkes)

TOP-NEWS.id, BOGOR – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menjadikan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah sebagai pintu masuk mendeteksi dan menangani masalah kesehatan pada siswa mulai dari gigi berlubang, anemia, hingga obesitas — demi mewujudkan generasi Indonesia yang unggul.

Penegasan itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono saat meninjau pelaksanaan CKG Anak Sekolah di SMPN 5 Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8).

Kegiatan tersebut dilakukan bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan.

“Edukasi memang penting, tetapi aspek kesehatan merupakan bekal utama bagi mereka untuk bertumbuh dengan baik dan menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul. Kita tidak hanya sekedar memeriksa, tetapi temuan ini harus ditindaklanjuti menjadi bersama lintas sektor,” sambung Wamenkes.

Berdasarkan data Kemenkes sampai dengan Agustus 2026, program CKG telah melayani 15,2 juta siswa dari total target 50 juta anak sekolah di seluruh Indonesia.

Hasil pemeriksaan mengungkap sejumlah masalah kesehatan yang mendominasi anak usia sekolah. Temuan tertinggi secara nasional adalah karies gigi (gigi berlubang) yang mencapai 40,9 persen, disusul anemia pada remaja putri, peningkatan tekanan darah, dan serumen impaksi (penumpukan kotoran telinga).

Di Kota Bogor, kasus gigi berlubang pada siswa yakni 48,79 persen. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena melaporkan, cakupan CKG di wilayahnya telah mencapai 49,62 persen berkat inovasi jemput bola “CKG Smart”.

“Di Bogor angka karies mencapai 48,79 persen. Untuk merespons temuan ini dan tantangan akses, kami menginisiasi inovasi CKG Smart yang mobile dan responsif untuk memberikan terapi awal terintegrasi langsung ke sekolah-sekolah,” tandas Erna.

Selain itu, anak-anak Indonesia menghadapi beban ganda masalah gizi. Di satu sisi masih terdapat gizi kurang, di sisi lain kasus gizi lebih (obesitas) pada anak sekolah secara nasional mencapai 7,2 persen.

Untuk mengatasi temuan tersebut, Kemenkes mengintegrasikan CKG dengan target intervensi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Program ini memiliki empat target yang saling berkesinambungan: kesehatan sebelum hamil (remaja putri dan calon pengantin), kesehatan masa kehamilan hingga bayi lahir, kesehatan bayi di bawah dua tahun (baduta), serta penguatan fasilitas layanan kesehatan.

CKG di jenjang SMP dan SMA menjadi wadah krusial mengintervensi kesehatan remaja sebelum fase kehamilan, agar kelak siap menjadi orang tua yang sehat.

Sementara itu, Wamendikdasmen Fajar menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membentuk pola pikir dan budaya hidup sehat peserta didik sejak dini.

“Kami mengapresiasi inisiatif Pak Wamenkes yang mengundang kami bersama Wamen PPPA. Ini menunjukkan sinergi karena CKG Sekolah dilaksanakan di ruang pendidikan dan hasilnya perlu ditindaklanjuti bersama,” ujar Fajar.

Menurutnya, CKG merupakan Program Hasil Terbaik Cepat Presiden Prabowo Subianto sekaligus implementasi Asta Cita keempat yang menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul.

Melalui publikasi data temuan CKG ini, Kemenkes berharap masyarakat — khususnya orang tua dan tenaga pendidik — semakin menyadari ancaman penyakit pada anak sekolah.

Kesadaran itu diharapkan mendorong perubahan perilaku hidup sehat di lingkungan keluarga sekaligus mengoptimalkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Sumber : Kemenkes
(Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI)

Copyright © TOP-NEWS.ID 2024 | Newsphere by AF themes.