Yayasan Maga Edukasi Papua dan Pemprov Papua Pegunungan Bahas Rencana Kolaborasi Bidang Pendidikan
8 min read
TOP-NEWS.id, JAYAPURA- Kampus Universitas Internasional Papua (UIP) dalam naungan Yayasan Maga Edukasi Papua (YMEP) bersama Rektor dan sejumlah pejabat UIP menerima kunjungan Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Papua Pegunungan Dr. Velix Vernando Wanggai, S.I.P., M.P.A, Senin (11/3/2024).

“Pertemuan penting dan bersejarah ini memberikan semangat bagi segenap keluarga besar YMEP untuk konsisten berkontribusi dalam pembangunan, khusus sektor pendidikan di Tanah Papua. Melalui dua unit lembaga yang dikelola YMEP, yakni terutama Universitas Internasional Papua dan Papua Language Institute (PLI),” ungkap Ketua YMEP Yoob Ginia, SH saat menerima kunjungan Pj. Gubernur Provinsi Papua Pegunungan.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Samuel Tabuni, M.Si., MAJEd, selaku Pendiri YMEP, UIP, & PLI, dengan didampingi Rektor UIP Dr. Izak Morin, M.A., Wakil Rektor I Yane Ansanay, M.Sc., Ph.D, Wakil Rektor II Korinus Waimbo, S.Si., M.Sc, dan Wakil Rektor III Abinus Sama, S.Sos, M.I.R.
Kemudian, Dekan FKIP Paskalis Kaipman, S.Pd., M.Ed, Dekan FST Agnes Kopeuw, S.Si., M.Sc, Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris Selmina Rumawak, S.S., MAppLing, Kaprodi Pendidikan Antropologi Varis Sanduan, S.Sos., M.Si, serta Kaprodi Teknik Sistem Energi Hesti Msiren, S.T., M.Eng.

Hadir juga Kaprodi Teknik Fisika Happy Haay, S.Si., M.Si.D, Saul Weipsa, S.T., M.T mewakili Prodi Teknik Industri, Ketua LPPM Demmy Tabuni, S.S., M.Ed dan Kepala International Office sekaligus Kabiro Kerjasama dan Pengembangan Drs. Pieter Upesy, MA, Kabiro Akademik dan Kemahasiswaa Ivona Dorobia, MA, Kabiro Umum, Keuangan dan Kepegawaian Melissa Daullu, S.Pd., M.Sc.
Tujuan pertemuan ini adalah untuk membahas rencana pengembangan pendidikan di wilayah Papua Pegunungan. Pertemuan tersebut, dipandu oleh Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Selmina Rumawak M.Eng.

Dalam kunjungan perdana ke Kampus Universitas Internasional Papua, Pj Gubernur Papua Pegunungan Dr. Velix V. Wanggai sangat mengapresiasi langkah Yayasan Maga Edukasi Papua dalam menghadiran Universitas Internasinal Papua di Tanah Papua dan menegaskan bahwa UIP hadir sejalan dengan penetapan Peraturan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2023 tentang Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua Tahun 2022-2041.
“Sehingga UIP dapat turut mengambil peran dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia unggul, inovatif, berkarakter, dan kontekstual Papua yang merupakan salah satu program prioritas dalam Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Papua (RAPPP) Tahun 2022-2041,” kata Pj Gubernur Papua Pegunungan.
Dalam mengambil peran tersebut, Dr. Velix V. Wanggai memaparkan pandangannya terkait positioning IUP di tingkat internasional, nasional, dan lokal atau lintas wilayah administratif di Tanah Papua.
Pada tingkatan internasional secara khusus kawasan Pasifik termasuk Australia dan New Zealand, Dr. Velix V. Wanggai menegaskan bahwa dalam jangka panjang UIP dapat menjadi salah satu centre of excellence atau pusat keunggulan dalam pengembangan model pendidikan bertaraf internasional di Tanah Papua.

Bahkan Pj Gubernur Papua Pegunungan Dr. Velix Wanggai menyatakan bahwa dengan menjadi Centre of Excellence, UIP dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan pendidikan yang kompetitif secara global tetapi juga menjadi gate atau pintu gerbang Indonesia di wilayah Pasifik dalam sektor pendidikan.
Untuk di tingkat nasional. Dr. Velix V. Wanggai memandang wilayah perbatasan di Papua sebagai cerminan dari program-program nasional yang tengah digalakkan. Dalam hal ini, perlunya sinkronisasi antara agenda nasional dengan pengembangan pendidikan di UIP menjadi hal yang krusial.
“Dengan merujuk pada Inpres Nomor 9 tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat termasuk beberapa provinsi yang bar,” tutur Dr. Velix V. Wanggai.
Ia menegaskan, perlunya diferensiasi yang jelas dalam posisi dan segmentasi UIP agar sesuai dengan program nasional tersebut. Hal ini tentu tidak terlepas dari harapan agar pengembangan pendidikan di Papua haruslah sejalan dengan program-program nasional untuk memastikan tercapainya tujuan pembangunan secara holistik dan berkelanjutan.
Sementara di tingkat lokal kata Dr. Velix V. Wanggai, menyoroti pentingnya penyediaan modal manusia (human capital) yang berkualitas untuk melayani kebutuhan keenam provinsi di Tanah Papua.
Hal ini mengacu pada perlunya keterlibatan lembaga pendidikn setempat agar penyusunan rancangan induk pembangunan selalu berbasis penelitian, sehingga semua rencana untuk membangun orang asli Papua tepat sasaran.
“Dalam konteks ini, UIP diharapkan dapat berperan sebagai katalisator dalam memajukan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Papua, serta membangun jaringan kerja sama yang kuat antara lembaga pendidikan dan pemangku kepentingan di tingkat lokal atau regional,” harap Pj Gubernur Papua Pegunungan.
Selain itu, menurutnya, melalui kolaborasi dan kerja sama lokal, nasional dan internasional yang sudah dibangun UIP dan Yayasan Maga Edukasi Papua, UIP dapat menjadi HUB yang menghubungkan layanan-layanan pendidikan tinggi, penelitian, dan pelatihan-pelatihan berkualitas kepada berbagai stakeholder di Tanah Papua.
Untuk mewujudkan gagasan-gagasan ini di tingkat lokal, Dr. Velix V. Wanggai selaku Pj Gub Provinsi Papua Pegunungan telah berkomitmen untuk menjalin kerja sama antara Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dengan Yayasan Maga Edukasi Papua.
Dr. Velix V. Wanggai juga menyampaikan bahwa pembahasan MoU antara Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dengan YMEP sedang dalam proses.
MoU Provinsi Papua Pegunungan-YMEP
MoU ini diharapkan akan menetapkan beberapa rincian cakupan kerja sama, termasuk peningkatan kapasitas PNS, peningkatan keterampilan berbahasa Inggris, penelitian bersama, promosi internasional, serta pembiayaan pelajar dari wilayah Papua Pegunungan untuk kuliah di Universitas Internasional Papua maupun unit lembaga lainnya di bawah YMEP seperti PLI.

Tidak hanya itu, dalam upaya membangun karakter dan personal development, Dr. Velix V. Wanggai mendukung wacana pendidikan berpola asrama di UIP sebagai sarana untuk memfasilitasi pertukaran budaya dan bahasa antara mahasiswa internasional dan lokal, serta memungkinkan kolaborasi antar mahasiswa yang bermanfaat ketika mereka menjadi pempimpin masa depan di negaranya msing-masing.
Dr. Velix Wanggai menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan pengalaman internasional sebagai bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa.
Melalui strategi-strategi ini, Dr. Velix V. Wanggai berharap bahwa UIP akan menjadi jembatan penting dalam memajukan pendidikan dan kesejahteraan di Tanah Papua.
Ia memandang pembangunan Tanah Papua sebagai satu kesatuan utuh, serta berkomitmen untuk memastikan bahwa UIP menjadi pusat inovasi dan pengembangan bagi masa depan yang lebih baik bagi masyarakat di Tanah Papua.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, Dr. Velix Wanggai meyakini bahwa UIP akan menjadi tonggak penting dalam membangun masa depan yang lebih cerah bagi Tanah Papua dan Indonesia secara keseluruhan.
Rektor UIP: Peluang Bagi UIP
Kesempatan yang sama, Rektor UIP Dr. Izak Morin mengungkapkan kegembiraannya mewakili seluruh sivitas akademika karena pada akhirnya dapat berdiskusi langsung dan mendengarkan gagasan-gagasan luar biasa sekaligus harapan yang merupakan tantangan, namun juga peluang bagi UIP.
“Dalam usia UIP yang baru genap dua tahun sebagai salah satu kampus swasta yang beroperasi di Provinsi Papua, tentunya kunjungan Dr. Velix Wanggai memiliki makna tersendiri,” ucap Rektor UIP Dr. izak Morin.
Dr Izak Morin menegaskan juga bahwa UIP akan segera menindaklanjuti berbagai usulan dan masukan sebagaimana telah dikemukakan oleh Dr. Velix Wanggai.
Sementara Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kemahasiwaan UIP Yane Ansanay, Ph.D menjelaskan kepada Pj. Gubernur Provinsi Papua Pegunungan bahwa UIP adalah salah universitas di Papua yang diakui dan telah mendapatkan izin penerimaan mahasiswa asing.
“Berbagai syarat administraf dan kelengkapan yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa asing termasuk sosialisasi dan membangun kerja sama dengan Pemerintah Papua New Guinea (PNG) telah selesai dilakukan oleh UIP, sehingga harapannya tahun ini UIP sudah dapat menerima mahasiwa asing dari PNG,” jelas Yane Ansanay, Pg.D.
Hal yang sama juga disampaikan Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Kepegawaian dan Administrasi UIP Korinus Waimbo dengan menekankan betapa pentingnya menyediakan wadah bagi lulusan-lulusan universitas dari dalam dan luar negeri yang ingin mengabdi sebagai akademisi dan peneliti di Tanah Papua.
Dikatakannya, UIP telah merekrut fresh graduate dari Sabang sampai Merauke, bahkan lulusan-lulusan anak-anak asli Papua dari universitas di luar negeri seperti Amerika, Inggris, Rusia, Jerman, dan Australia ketika kembali ke Papua dapat langsung bekerja di UIP, baik sebagai tenaga pendidik (dosen) atau tenaga kependidikan (staf).
Hal ini ia menegaskan bahwa kehadiran UIP turut membuka lapangan kerja baru. Hal ini adalah bagian dari langkah konkret yang dapat dilakukan dalam upaya mendukung pembangunan Papua yang lebih maju di masa mendatang.
Di tempat yang sama, Wakil Rektor III Bidang Pengembangan dan Kerjasama UIP Abinus Sama mengapresiasi pandangan Pj Gubernur Papua Pegunungan yang inklusif terhadap pembangunan manusia Papua asli sebagai satu kesatuan utuh yang tidak terbatas oleh batasan administrasi dari keenam provinsi.
Yakni, dimana semua itu mencerminkan sebuah visi yang luas dan mendalam tentang masa depan Tanah Papua. Selain itu, dirirnya juga menyatakan bahwa membangun Tanah Papua memerlukan grand design yang didasarkan pada data penelitian yang tepat.
Sebagai sesama alumni Australian National University, Abinus merasa bangga akan terobosan Pj Gubernur Papua Pegunugan dalam menanamkan pondasi pembangunan, terutama dalam bidang pendidikan di wilayah adat La Pago.
Universitas Internasional Papua telah memulai dan tengah mengembangkan pola asrama bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan pribadi mereka. Pola ini memfasilitasi kombinasi bahasa, budaya dan karakter antara mahasiswa internasional dan lokal, sehingga tercipata sikap saling menghormati perbedaan.
Meskipun tantangan dan biayanya cukup tinggi, Abinus Sama menegaskan bahwa upaya ini harus terus dilanjutkan, karena kompleksitas masalah yang dihadapi anak-anak Papua membutuhkan pendekatan yang holistik dari universitas, yang tidak hanya bertindak sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai orang tua dan pengajar bagi mahasiswa mereka.
Dalam kesempatan ini, Samuel Tabuni sebagai Pendiri Yayasan Maga Edukai Papua dan Univesitas Internasional Papua mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kesediaan Dr. Velix Wanggai yang telah meluangkan waktu untuk berkunjung dan berdiskusi di tengah padatnya agenda Pj. Gubernur Provinsi Papua Pegunungan.
Putra kelahiran Nduga ini juga mengemukakan bahwa kehadiran UIP dapat menjadi salah satu solusi yang inovatif bagi pemerintah dalam membangun orang Papua asli dengan menggunakan pendekatan pendidikan yang berbeda.
Yaitu, dalam konteks otonomi khusus di Tanah Papua, dimana pendidikan bagi orang asli Papua telah menjadi pembicaraan yang konsisten pada banyak kesempatan, namun masalahnya masih belum terselesaikan.
Menurut Samuel Tabuni, hal ini diperlukan strategi baru yang lebih efektif dan inklusif untuk mencapai hasil yang diinginkan.
“Melalui YMEP dan seluruh unit lembaga yang berada di bawah naungannya kami selalu siap untuk menjadi mitra pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat dan semua pihak yang bekomitmen membangun Tanah Papua melalui jalur pendidikan,” tegas Samuel Tabuni.
Dari pandangan para pemangku kepentingan ini, Universitas Internasional Papua bukan hanya sebatas institusi pendidikan, tetapi juga merupakan pusat inovasi, pengembangan potensi sumber daya alama (SDA), dan pembangunan manusia Papua yang holistik yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, diharapkan akan tercipta transformasi yang signifikan dalam kualitas hidup masayarakat Papua di masa depan.
Editor: Frifod
Sumber: Abdiel F. Tanias,
Kabag Humas UIP