fbpx
Minggu, 16 Juni 2024

TOP-NEWS

| KAMI ADA UNTUK ANDA

Terus Berkembang dan Terbaik, RSUD Jayapura Siap Layani Rujukan Kasus-Kasus Pasien di Seluruh Rumah Sakit Papua

9 min read

TOP-NEWS.id, JAYAPURA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok 2 Jayapura, Papua dengan type B, terus berbenah diri. Pembangunan terlihat hampir di seluruh bagian. Inisiatif perbaikan infrastruktur kesehatan merupakan hal penting untuk menjamin kesehatan masyarakat, sehingga pembangunan harus dipercepat dan tidak mengganggu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Dengan semakin banyak penanganan pasien dengan kasus-kasus yang sulit, membuktikan bahwa RSUD Jayapura memiliki pelayanan yang lengkap dengan berbagai perlengkapan kedokteran serta memiliki tenaga sumber daya manusia yang sangat siap. Untuk itu, segala yang masih kekurangan akan terus dipersiapkan.

Sebagai rumah sakit rujukan terbaik di Papua, RSUD Dok 2 Jayapura menggelar konferensi pers terkait pelayanan rujukan kasus-kasus filariasis pasien dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Puncak Jaya ke RSUD Jayapura, Papua, di ruang SMF Bedah, Kamis (18/11/2021).

Wadir RSUD Jayapura dr Andreas Pekey, Sp.PD

Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medik (Yanmed) dan Keperawatan dr Andreas Pekey, Sp.PD, sebagai pejabat baru di RSUD Jayapura sudah memberikan gebrakan baru mengangkat RSUD Jayapura agar lebih dikenal dengan menggelar konferensi pers dan menghadirkan dokter-dokter hebat RSUD Jayapura, di antaranya, dr James Gedy, Sp.B (K) Onk, dr Donald W Aronggear, Sp.B (K)Trauma, dan dr Nickanor K Wonatorey, Sp.U.

Lalu, dr Erick W Akwan, Sp.B, dr James Laly, Sp.B, dr Tommy J Numberi, Sp.BS, dan dr Dian N Sirait, Sp.B. Sementara Nelson Wonda, ST.M.Kes, adalah penanggung jawab filariasis dari Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Dalam konferensi pers, dokter spesialis penyakit dalam yang juga Wadir Yanmed dan Keperawatan  RSUD Jayapura juga menambahkan terkait pelayanan rujukan operasi, serta kasus-kasus filariasis. Untuk itu, kehadiran para dokter bedah akan menerangkan pelayanannya langsung dalam menangani pasiennya.

Selain itu, acara tersebut juga membahas pelayanan bedah di RSUD Jayapura sudah sejauh mana, akan diterangkan oleh masing-masing dokter yang menangani.

Pada pertemuan itu, Dinas Kesehatan Puncak Jaya diwakili Nelson Wonda, ST.M.Kes, sebagai penanggung jawab filariasis yang membawa sejumlah pasien rujukan untuk dilakukan operasi di RSUD Jayapura.

dr James Gedy, Sp.B (K) Onk

“Sistem Pelayanan Harus Tetap Dipertahankan”

Kepala Resimen Bedah (SMF/DSM Bedah) RSUD Jayapura, dr James Gedy, SpB (K) Onk mengatakan, RSUD Jayapura saat ini sudah banyak memiliki ahli bedah dengan keahlian yang beragam.

“Ada bedah umum, ada konsultan trauma, konsultan digestif, konsultan unkologi atau kanker, ada bedah urologi, bedah ortopedi, bedah syaraf, dan bedah anak. Sekarang ini rumah sakit kami juga sudah memiliki dokter bedah plastik ” kata dokter Spesialis Bedah Onkologi RSUD Jayapura ini dalam keterangan persnya.

Untuk itu, dr James Gedy menambahkan bahwa dalam pelayanan, RSUD Dok 2 Jayapura dengan adanya dokter-dokter ahli bedah tersebut, maka bisa dibilang sudah hampir paripurna atau rumah sakit sudah cukup banyak memiliki ahli bedah dengan keahlian masing-masing.

Dikatakannya, untuk tahun ini (2021) RSUD Jayapura sudah banyak melakukan pelayanan-pelayanan, termasuk kasus-kasus yang dirujuk dari daerah-daerah.

“Kasus-kasus rujukan dari Yahukimo kami sudah tangani dan melayani dengan baik, dan Puji Tuhan pasien sudah sembuh dan kami pulangkan ke Yahukimo,” ujarnya.

Jadi kata dr James Gedy, pelayanan yang dilakukan RSUD Jayapura kepada masyarakat sudah sangat beragam, kerana ditunjangi sarana prasarana yang semakin lengkap. Dan tentunya didukung oleh manajemen dalam menyiapkan segala kebutuhan yang digunakan para medis.

Selain itu, RSUD Dok 2 Jayapura juga bekerjasama dengan rumah sakit-rumah sakit daerah. Yakni, dengan RSUD Nabire dengan mengirimkan ahli bedah syaraf untuk melakukan operasi kepada pasien.

“Ke depan, RSUD Jayapura terus akan melakukan kerja sama dengan rumah sakit yang ada di Papua. Kita akan mendekatkan pelayanan ke daerah agar tidak semua pelayanan dirujuk ke RSUD Dok 2,” tutur dr James Gedy, SpB (K) Onk.

James Gedy menambahkan bahwa kerja sama  dengan Pemkab Puncak Jaya ini adalah kali kedua menangani kasus pasien filariasis yang dioperasi di RSUD Jayapura.

Sementara di bidang pendidikan, kata dia, pihaknya juga telah menjalankan misi pendidikan yaitu menjadi rumah sakit pendidikan untuk Universitas Cenderawasih (Uncen). Dan saat ini pihaknya sudah mendidik calon-calon dokter.

Saat ditanya oleh media, sudah berapa banyak pasien rujukan ditangani RSUD Jayapura, ahli bedah kanker ini menjelaskan bahwa selama masa pandemi untuk bagian bedah pihak rumah sakit terus memberikan pelayanan, bahkan masa pandemi pihaknya banyak melayani pasien rujukan dari daerah.

“Untuk keterisian tempat tidur pasien, khususnya di bagian bedah selama tahun 2020 hingga sekarang selalu penuh. Dan selalu menumpuk kasus-kasus di emergency (UGD). Terima kasih kepada manajemen sudah mulai ada pembangunan untuk persiapan ruangan-ruangan baru,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan, saat ini bagian ahli bedah di RSUD Jayapura memiliki 16 ahli, namun untuk tempat tidur (pasien) pihak kami masih kurang. Ini akan menjadi perhatian kita juga,” jelas James.

Dijelaskannya, banyak kasus-kasus pasien yang RSUD Jayapura sudah tangani dalam pelayanan rujukan dari berbagai daerah. Untuk pelayanan kanker pihaknya layani di RSUD Dok 2 Jayapura.

“Ke depan pihaknya akan membangun program pendidikan. RSUD Jayapura akan membuka spesialis bedah di Uncen dan saat ini sedang proses program studi tersebut. Supaya di Indonesia bagian Timur memiliki sendiri,” harap dokter spesialis ahli kanker ini.

Dikatakannya, di Indonesia bagian Timur khususnya Papua mempunyai khas tersendiri berkaitan penyakit tropis.

“Contohnya TBC (tuber kulosis). Saya sendiri sudah temukan TBC di payu dara, dan dokter Tommy (dr Tommy J Numbers, Sp.BS) pun temukan TBC di otak dan tulang belakang. Jadi Papua ini adalah suatu khasan penyakit tropis yang berhubungan dengan bedah. Mungkin di tempat lain ada, namun untuk penyakit tropis ini sangat spesifik,” ucapnya, sembari menambahkan bahwa RSUD Dok 2 masih membutuhkan SDM yang banyak, bahkan rumah sakit daerah pun sangat membutuhkan ahli bedah yang banyak, karena dunia kesehatan terus berkembang.

Saat ini, kata dia, di Papua (Papua Barat dan Maluku) sudah memiliki 60 ahli bedah (Papua masih bergabung dengan Maluku). Salah satu dokter RSUD Jayapura yang menjabat sebagai ketua organisasi dokter ahli bedah, adalah dr Donald W Aronggear, Sp.B (K) Trauma.

dr Donald W Aronggear, Sp.B (K) Traum

”Membangun Sistem Komunikasi Sangat Diperlukan”

“Kita punya prinsip hanya satu, yakni manusia harganya sama, dalam pelayanan semua sama, tidak ada yang berbeda,” ujar kata-kata bijak Ketua IKABI ini.

Dikatakan dr Donal Aronggoar bahwa pihak rumah sakit pada hari ini (Kamis, 18/11) sudah melakukan operasi kasus filariasis dan hernia dengan lancar. Bukan itu saja, pihak rumah sakit juga masih banyak melakukan pelayanan-pelayanan lainnya.

Sebagai dokter ternama dan juga putra Papua yang pernah sukses melakukan operasi hernia yang disiarkan langsung dan ditonton oleh tujuh negara di kawasan Asia Pasifik pada 2019, dr Donald menjelaskan, RSUD Jayapura terus membuktikan diri berkembang dalam segala bidang.

“Orang hanya tau rujukan (kirim) pasien, tapi saat ini kita para dokter dan manajemen sudah membangun sistem rujukan antara rumah sakit dengan rumah sakit yang ada di Papua. Hanya di Papua saja dari seluruh Indonesia yang mempunyai sistem komunikasi yang kuat seperti ini dalam menangani pelayanan rujukan pasien,” terang dokter konsultan ini.

Untuk itu diharapkan, pihak rumah sakit (RSUD Jayapura) akan membuat MoU (Memorandum of Understanding) atau nota kesepakatan janjian kerja sama dengan rumah sakit-rumah sakit di daerah.

“Kan kasihan kalau masyarakat Papua hanya bisa menikmati pelayanan satu rumah sakit saja, semua masyarakat di Tanah Papua bisa juga menikmati pelayanan di rumah sakit lainnya. Untuk itu, tahun depan (2022) diharapkan lebih baik lagi, khususnya masalah kesehatan,” tutur Ketua IDI.

Saat TOP-NEWS.id menanyakan terkait pasien rujukan dengan geografis di Papua dalam transportasi, Ketua IKABI ini secara spontan menjelaskan bahwa pasien rujukan dengan gawat darurat harus segera ditangani lebih dulu di rumah sakit setempat untuk emergencynya, hal ini karena jarak yang menjadi halangan.

“Makanya yang harus dilakukan, adalah rujukan ilmu kepada para dokter yang selalu menghadapi pasien gawat darurat. Dengan membangun sistem komunikasi dan memberikan ilmu dari dokter-dokter ahli, ini akan menjadi lebih diketahui apa masalah yang terjadi pada pasien,” ucap dr Donald.

Sedangkan pasien yang tidak gawat darurat atau emergency bisa langsung dirujuk ke rumah sakit yang dituju, namun semua itu tergantung kapasitas rumah sakit tersebut.

“Makanya kami mengharapkan ke depannya semua fasilitas harus siap untuk semua ini. Dan tentunya rujukan dokter spesialis sangat diperlukan ke rumah sakit luar Jayapura, karena kalau semua pasien dirujuk ke RSDU Dok 2, ruangan belum cukup tersedia,” terang dia.

Soal rujukan pasien, kata dr Donald, bukan saja dari wilayah Papua, tapi bisa juga dari Papua Barat dan Papua New Guinea. Artinya, semua harus saling mendukung, mulai dari SDM, fasilitas dan lainnya. Saat ini semua sistem sudah diterapkan di RSUD Jayapura.

“Sistem yang kita bangun, yaitu sistem penguatan itu nomor satu dari pihak kami dulu. Bahkan, kita sudah pernah lakukan kerja sama dengan rumah sakit besar di luar Papua. Tapi secara fasilitas, kalau yang sudah ada di rumah sakit ini (RSUD Jayapura) kita tidak akan rujuk lagi. Karena kita mengayomi di daerah-daerah di Papua,” urai dia, sembari menambahkan bahwa semboyannya, “you are never alone, kamu tidak sendiri”, semua harus bersatu dan saling mendukung.

“Di Papua geografis terlalu luas, jadi kita harus membangun sistem sendiri. Sudah saatnya teman-teman kami ini, mau tidak mau harus berbuat semaksimal untuk Tanah Papua. Jadi sistem komunikasi dan sistem lainnya sangat menentukan, terutama kekompakan dalam tim. Dan tim kami sangat kompak tangani kasus bersama,” ungkap dr Donald.

dr Nickanor K Wonatoey, Sp.U

”Sistem pelayanan perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar semua terjangkau”

Koordinator Pelayanan Pengobatan Filariasis, Hernia dan Hidrokel pasien-pasien dari Kabupaten Puncak Jaya, Papua, dr Nickanor K Wonatoey, Sp.U mengatakan, sebelumnya RSUD Dok 2 Jayapura pernah melakukan pelayanan menangani pasien kasus-kasus filariasis dan sekarang, adalah kali kedua menangani 11 pasien (Kabupaten Puncak Jaya), semuanya dirujuk ke RSUD Jayapura untuk dioperasi.

“Tim dokter yang menangani ada 12 dokter bedah. Terdiri dari dokter urologi, unkologi, konsultan trauma dan dokter bedah umum,” jelas dr Nickanor.

Dikatakan dr Nick sapaannya, menangani operasi kasus filariasis saat ini, sudah dilakukan selama dua hari dengan hari ini, (Kamis, 18/11). Pada hari pertama operasi, pihaknya sudah memulangkan tiga pasien dan operasi berjalan lancara.

“Hari pertama kita lakukan operasi sebanyak empat pasien dan hari kedua kita sudah lakuan operasi sebanyak tujuh pasien. Selama dilakukan tindakan operasi semua berjalan lancar,” kata ahli bedah ini, sembari menjelaskan bahwa dalam tindakan operasi timnya didukung tiga dokter anestesi dalam pelayanan pengobatan filariasis, hernia dan hidrokel.

dr Nick bersama timnya mengharapkan agar sistem pelayanan ini tetap dipertahankan, bahkan lebih ditingkatkan agar bisa menjangkau pelayanan sampai kabupaten-kabupaten atau ke daerah-daerah terpencil.

Dijelaskannya, filariasis itu seperti penyakit kaki gajah, tapi lebih serang ke organ ginetalia (alat kelamin pria), yakni buah zakar pria tersebut membesar karena tersumbat.

Sedangkan hernia, akibat kelemahan dinding perut dan akhirnya brojol atau ususnya turun dan tindakan harus dioperasi untuk diperbaiki. Sementara hidrokel adalah cairan yang menumpuk, karena inveksi atau bisa juga trauma, sehingga buah zakarnya membesar dan perlu dioperasi untuk mengeluarkan cairannya.

Nelson Wonda, ST.M.Kes

Pemkab Puncak Jaya, Papua memberikan kepercayaan kepada Nelson Wonda, ST.M.Kes sebagai penanggungjawab pada pasien-pasien yang terkena kasus filariasis sejak 2016, dan program pengobatan kasus filariasis pun mulai muncul pada 2016.

“Pembagian obat secara massal diberikan kepada warga di seluruh Kabupaten Puncak Jaya. Saat membagi obat-obatan, kami menemukan kasus filariasis. Puncak Jaya terdiri dari gunung dan daerah rawa,” kata Nelson membuka percakapan.

Nelson menambahkan, masalah ini, sejak 2016 pihaknya berusaha mencari informasi bagaimana cara menangani kasus filariasis. Alhasil, pada 2020, akhirnya kami mendapatkan jawaban soal ini.

Dan pada saat itu, kata Nelson, pihaknya ditunjuk oleh Dinas Kesehatan Puncak Jaya untuk berkoordinasi dan membangun komunikasi dengan salah satu dokter ternama di Tanah Papua, yaitu dr Donald W Aronggear, Sp.B (K), Trauma sebagai dokter konsultan di RSUD Dok 2 Jayapura.

Nelson tidak sendiri, dia bersama timnya, dipercayakan Pemkab Puncak Jaya pada 2019 untuk presentasi di hadapan pejabat Bappeda Puncak Jaya, sehingga timnya mendapatkan dana terkait program filariasis.

“Dan 2020, kami berkomunikasi untuk rencana membawa pasien sebanyak 16 orang, namun saat itu sedang Covid-19 serta pemeriksaan yang ketat, akhirnya yang lolos hanya 13 pasien yang memiliki KTP,” jelas Nelson.

“Sangat luar biasa dokter-dokter yang bersama kami ini sudah melakukan operasi dengan lancar dan para pasien juga sudah dipulangkan,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, program ini sangat dibutuhkan masyarakat, jadi tahun ini juga (2021), Pemkab Puncak Jaya terus melanjutkan program penanganan kasus filariasis.

Untuk itu, Puskesmas Fawi bersama timnya kembali survey dan menemukan lagi 16 pasien dengan kasus yang sama. Sayangnya, pemahaman masyarakat berbeda dalam hal ini untuk ditangani penyembuhannya.

“Saya sangat bangga dengan dokter-dokter yang tangani kasus sekarang. Ada perbedaan pada 2020, dimana saat itu membutuhkan waktu yang agak panjang, namun sekarang sangat luar biasa dalam penanganan pasien hanya dibutuhkan dua hari. Ini sangat hebat dan kami berterimakasih kepada RSUD Jayapura dengan adanya perkembangan ini,” katanya.

“Kami bersyukur dan berterimakasih kepada Bupati Puncak Jaya sekarang, Kepala Dinas Kesehatan dan Bappeda, mereka mau merespons usaha kami ini untuk mendatangkan pasien sebanyak 20 lebih dirujuk ke RSUD Jayapura terlayani dengan sangat baik,” pungkas Nelson.

Ada yang diharapkan Nelson Wonda terkait kasus filariasis agar bisa ditangani di daerahnya (Puncak Jaya), yakni dengan memberikan rujuk ilmu ke Puncak Jaya.

Reporter: Frifod
Editor: Frifod

Copyright © TOP-NEWS.ID 2024 | Newsphere by AF themes.